Sejak ribuan tahun lalu, manusia sudah berpikir bagaimana menjalani
hidup di dunia ini dengan baik. Pemikiran itu bertolak pada kenyataan
bahwa ada kenikmatan dan penderitaan yang terhampar selama manusia
hidup di dunia. Muncul juga sebuah kesadaran, ada nilai yang lebih
tinggi dari kenikmatan dan penderitaan di dunia yang seharusnya yang
pemikir besar dari Athena pernah mengatakan, "Betapa banyak benda yang
tak kubutuhkan." Kalimat ini terucap ketika ia terpaku menatap sebuah
kedai yang penuh dengan barang dagangan. Kesadaran itu membuatnya
hidup dalam kesederhanaan.Kehidupan Socrates yang seperti itu dikagumi
salah seorang muridnya, Antisthenes [445-365 SM]. Wujud dari
kekagumannya itu membuat ia mendirikan sebuah aliran filsafat yang
disebut Filsafat Cynic. Aliran ini berpandangan bahwa kebahagiaan
sejati tak terdapat dalam kelebihan dan kemewahan yang bersifat
lahiriah seperti melimpahnya kekayaan materi, tercapainya kekuasaan
politik, ataubahkan kesehatan raga. Karenanya, untuk mencapai
kebahagiaan ituhal yang bersifat lahiriah.Di antara pengikut Kaum
Cynic yang paling menonjol dan sangat terkenal adalah Diogenes
[404-323 SM, Encyclopedia of Philosophy].Pemahamannya terhadap ajaran
Filsafat Cynic membuat ia memilih hidup dan bertempat tinggal di dalam
sebuah tong. Tak ada yang dimilikinya kecuali sebuah mantel yang
dikenakan, tongkat, dan kantong untuk menyimpan roti. Suatu hari,
ketika ia sedang duduk di samping tongnya, datanglah Alexander Agung,
penguasa Athena saat itu. Alexander Agung berkata kepadanya, "Wahai
Diogenes, adakah sesuatu yang kamu inginkan?" Diogenes menjawab, "Ya,
bergeserlah sedikit ke samping, Anda menghalangi sinar matahari
menerpa tubuhku."Di zaman yang hampir Cynic di atas. Jika Kaum Cynic
memandang kenikmatan duniawi adalah penghalang untuk mencapai
kebahagiaan sejati, aliran ini justru berpandangan sebaliknya, tujuan
manusia hidup di dunia adalah untuk mencapai kenikmatan indrawi yang
setinggi-tingginya. Salah seorang penganut aliran ini adalah
Aristippus.